Kamis, 26 April 2012
Pelaku Rekayasa Data K II Dishubkominfo Harus Diusut Tuntas
Sumbawa Besar,SE.
Terungkapnya rekayasa data calon pegawai negeri sipil yang masuk dalam daftar K2 di Dinas Perhubungan Komunikasi dan Informasi (Dishubkominfo) Kabupaten Sumbawa, mengharuskan pihak penentu kebijakan daerah bekerja ekstra hati-hati.
“Larena bukan tidak mungkin hal yang sama juga terjadi di instansi pemerintah daerah lainnya,” ungkap Rubianto, Koordinator Forum Persaudaraan Mahasiswa Batu Lanteh, kemarin.
Menurut Rubianto, terkuaknya data kemungkinan rekayasa data calon PNS di Dinas Perhubungan hasil verifikasi sekretaris Dinas terkait pada pertemuan dengan komisi 1 dan komisi IV beberapa waktu lalu, dari 38 orang yang masuk dalam daftar K2 calon pengangkatan PNS, hanya 1 orang yang memenuhi syarat sesuai ketentuan yang berlaku. “Langkah verifikasi Sekdis Perhubungan patut diacungi jempol untuk kemudian dicontohi oleh Dinas lainnya,” ungkap Rubianto.
Kendati demikian Rubi sapaan akrabnya, juga meminta pada institusi terkait untuk menindaklanjuti pengusutan lebih lanjut terhadap data hasil rekayasa yang disampaikan ke Badan Kepegawaian Daerah, karena didalam data tersebut menyebutkan ke 38 calon PNS yang diusulkan dalam daftar K2 telah memiliki SK kepala Dinas Perhubungan, rata-rata diterbitkan pada tahun 2005.
Selain itu kepada pihak Inspektorat juga diminta untuk bertindak tegas terhadap tenaga magang, tenaga honor daerah dan tenaga kontrak yang telah merkayasa data tersebut.
Oleh karenanya jika nanti terbukti dengan sengaja telah melakukan rekayasa, maka harus ditindak dan dikeluarkan dari Dinas Perhubungan.
“Masi calon pegawai saja sudah berani melakukan pelanggaran, bagaimana nanti kalau sudah diangkat?,” tanyanya.
Ditmpat terpisah, Ketua Forum Bersama LSM Sumbawa Opet Rachman sangat menyayangkan upaya rekayasa data K2 Dishubkominpo Sumbawa karena tindakan itu berkonsekwensi hukum termasuk katagori “penipuan” secara sengaja.
Mengingat temuan dugaan penyimpangan data K2 terungkap dari hasil verifikasi sekretaris Dishubkominfo dan diungkapkan didepan komisi I dan komisi IV DPRD Sumbawa, maka muncul pertanyaan besar siapa yang telah rekayasa, apakah para calon PNS atau rekayasa terjadi di pihak BKD. “Masalah ini harus diusut tuntas,” kata Opet.
Khususnya pada Sekdishubkominfo yang telah membuka persoalan ini ke public patut diapresiasi positif, tambahnya.(raja)
Siswa Tidak Ikut UN Diimbau Jalani UNPK
Mataram, SE
Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga Provinsi Nusa Tenggara Barat mengimbau siswa yang tidak ikut ujian nasional atau mengundurkan diri agar mendaftarkan diri menjadi peserta ujian nasional paket kesetaraan agar memperoleh ijazah.
Sekretaris Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga (Dikpora) Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) Imhal, di Mataram, mengatakan pihaknya memberikan kesempatan ikut dalam ujian nasional paket kesetaraan (UNPK) juga untuk menekan angka putus sekolah atau “drop out” (DO).
“Kami belum mengetahui secara pasti berapa jumlah siswa yang mengundurkan diri sebagai peserta ujian nasional (UN), di tingkat SMA/MA dan SMK, maupun SMP dan sederajat, namun dipastikan ada yang mengundurkan diri,” ujarnya.
Gubernur NTB TGH M Zainul Majdi, kata dia, menginginkan agar angka putus sekolah di NTB terus berkurang dalam rangka mendongkrak indeks pembangunan manusia (IMP) NTB ke papan tengah.
Posisi IPM NTB saat ini berada di urutan 32 dari 33 provinsi di Indonesia, atau satu tingkat di atas Provinsi Papua Barat.
Imhal mengatakan, pihaknya juga memberikan kesempatan yang diberikan bagi para siswa yang tidak lulus UN untuk mengikuti UNPK yang akan digelar pada Juni 2012, agar tidak mengulang kelas atau sekolah lagi pada tahun berikutnya dengan syarat lulus UNPK.
“UNPK itu juga bertujuan untuk memberikan peluang kelulusan bagi siswa yang tidak lulus UN sehingga tidak mengulang lagi tahun berikutnya,” ujarnya.
Ia menyebutkan, lebih dari 20 ribu pelajar di Provinsi NTB mengulang kelas setiap tahun ajaran karena tidak lulus atau naik kelas akibat berbagai faktor penyebab.
Pemerintah Provinsi NTB terus mendorong siswa yang tidak lulus atau naik kelas kembali bersekolah demi masa depannya.
Jumlah pelajar sekolah dasar (SD) yang mengulang kelas pada tahun ajaran 2008/2009 mencapai 27.697 orang, tahun ajaran 2009/2010 mencapai 25.283 orang dan tahun ajaran 2010/2011 sebanyak 24.156 orang.
Sementara jumlah pelajar SMP/MTs yang mengulang kelas pada tahun ajaran 2008/2009 sebanyak 91 orang, tahun ajaran 2009/2010 mencapai 718 orang dan tahun ajaran 2010/2011 sebanyak 383 orang.
Sedangkan jumlah pelajar SMA yang mengulang kelas pada tahun ajaran 2008/2009 sebanyak 457 orang, tahun ajaran 2009/2010 mencapai 649 orang dan tahun ajaran 2010/2011 sebanyak 388 orang.
Jumlah pelajar SMK yang mengulang kelas pada tahun ajaran 2008/2009 sebanyak 411 orang, tahun ajaran 2009/2010 mencapai 465 orang dan tahun ajaran 2010/2011 sebanyak 448 orang. (ant)
Keluarga TKI Lihat Bola Mata Herman Hilang
Lombok Timur, SE
Sanak keluarga mengaku melihat bola mata Herman (34), satu dari tiga Tenaga Kerja Indonesia asal Lombok yang tewas diberondong peluru di Negeri Sembilan, Malaysia, 22 Maret 2012, telah hilang, saat jasadnya hendak diotopsi ulang.
“Saya lihat bola matanya tidak ada lagi, kelopak matanya dijahit tertutup,” kata H Maksum selaku ayah dari Herman, usai melihat kondisi jasad anaknya yang tewas di Malaysia itu, sebelum diotopsi di perkuburan keluarga di Dusun Pancor Kopong Desa Pringgasela Selatan, Kecamatan Pringgasela,Kabupaten Lombok Timur, Kamis.
Maksum mengaku cukup yakin bola mata anaknya yang menjadi TKI di Malaysia dan dipulangkan dalam kondisi tak bernyawa itu, sudah diambil sebelum dikafani dan dipulangkang ke Indonesia, hingga dikuburkan di pekuburan keluarga yang terletak di belakang rumahnya.
Namun, ia enggan bicara banyak ketika wartawan mempertanyakan apa yang akan dilakukannya jika benar-benar terbukti indikasi pencurian organ tubuh TKI itu.
Kondisi fisik pria berusia 52 tahun itu tampak lemah, ketika terus ditanya tentang kondisi jasad anaknya, sebelum diperiksa dengan cara dibedah bagian tubuh tertentu oleh tim otopsi.
Sementara itu, Amaq Rupeni (50) selaku ayah dari Abdul Kadir Jaelani (28), juga mengaku melihat kondisi mata Herman yang sudah tidak memiliki bola mata.
“Matanya sudah tidak ada, jahitan menutup matanya,” ujarnya kepada wartawan dan kerumunan warga lainnya, usai memasuki tenda otopsi di pekuburan keluarga itu.
Herman dan Abdul Kadir Jaelani merupakan paman dan keponakan. Keduanya bekerja sebagai buruh bangunan di Negeri Sembilan Malaysia. Herman bekerja sebagai buruh bangunan di Mega Five Dev SSDN BGH, Jalan Tuanku Antan, Seremban, sedangkan Jaelani sebagai buruh bangunan di Ashami Enterprise, KG Baru, BT3 Mambau, Lorong Rajawali Seremban.
Mardiah (21), istri dari Herman juga sempat menyaksikan kondisi jasad suaminya itu, sebelum dan sesudah diotopsi, namun ia tak kuasa memberi keterangan. Ia terus menangis sambil menggendong anaknya yang berusia 18 bulan.
Hanya saja, pengakuan ayah dan paman Herman itu belum terkonfirmasi aparat kepolisian atau tim otopsi.
Kapolda NTB Brigjen Pol Arif Wachyunadi, yang dikonfirmasi saat meninjau pelaksanaan otopsi di perkuburan keluarga di Dusun Pancor Kopong Desa Pringgasela Selatan, Kecamatan Pringgasela, Kabupaten Lombok Timur, enggan menanggapi pengakuan keluarga TKI tewas di Malaysia itu.
“Keluarga sudah lihat, masih dalam proses penyelidikan, besok di Pengadangan (lokasi otopsi jasad Mad Noor),” ujarnya ketika dikonfirmasi terkait pengakuan H Maksum selaku ayah Herman dan Amaq Rupeni selaku ayah Jaelani, yang menyatakan bola mata Herman sudah tidak ada lagi saat hendak diotopsi.
Arif juga enggan menginformasikan hasil pengamatan visual terhadap organ tubuh jasad TKI yang hari ini diotopsi, meskipun hal itu yang dipertanyakan orangtua dan sanak keluarga TKI.
Ia berjanji akan mempublikasikan hasil otopsi kedua jasad TKI dari Malaysia itu, setelah otopsi jasad Mad Noor yang dijadwalkan Jumat (27/4) dirampungkan.
Polda NTB menjadwalkan pelaksanaan otopsi ulang tiga jasad TKI Lombok itu selama dua hari, yakni Kamis (26/4) untuk jasad Herman dan Jaelani, dan Jumat (27/4) untuk jasad Mad Noor. Otopsi jasad Herman dan Jaelani, berlangsung di pekuburan keluarga di Dusun Pancor Kopong Desa Pringgasela Selatan, Kecamatan Pringgasela, Kabupaten Lombok Timur.
Sedangkan pelaksanaan otopsi untuk jasad Mad Noor juga akan berlangsung di kuburannya, yang terletak di Desa Pengadangan, Kecamatan Pringgasela, Kabupaten Lombok Timur, sekitar dua kilometer dari kuburan Herman dan Jaelani.
Proses otopsi hari pertama dimulai pukul 07.00 Wita, yang diawali dengan pembongkaran kuburan guna mengambil kedua jasad yang dikubur berdampingan. Selanjutnya pemeriksaan jasad yang dimulai dari jasad Herman, yang berlangsung selama dua jam, dari pukul 09.00 Wita hingga 11.00 Wita.
Setelah beristirahat sejam, tim otopsi mulai memeriksa jasad Jaelani. TKI ini dilaporkan paling banyak diberondong peluru aparat kepolisian Negeri Sembilan, Malaysia, hingga tewas ditempat.
Otopsi ulang itu diperlukan untuk memperjelas penyebab kematian ketiga TKI asal NTB itu, sekaligus menjawab kejanggalan di tubuh jenasah versi sanak keluarga para TKI tersebut.
Versi Kepolisian Malaysia, ketiga jenazah TKI itu sudah diotopsi saat berada di Rumah Sakit Port Dickson Malaysia, karena tewas akibat penembakan.
Namun, sanak keluarga ketiga TKI yang tewas itu, menduga ada indikasi praktik jual-beli organ tubuh, karena adanya jahitan pada kedua mata, di dada dan perut korban. Mata dan organ dalam jasad itu diduga telah diambil.(ant)
Langganan:
Postingan (Atom)