Rabu, 10 April 2013

PT. Bank Mega Kembali Disoal Mantan Nasabah

Sumbawa Besar, SE.
Setelah  Soetono, giliran Bambang  salah seorang nasabah PT  Bank Mega  Cabang Sumbawa menyoal pelayanan bank swasta tersebut.
Bambang  yang ditemui wartawan mengaku kecewa  menjadi debitur  Bank Mega. Selain  malu di masyarakat, ia juga terpaksa harus menjual asset miliknya.
Bambang mengaku malu di masyarakat, lantaran pernah ditagih lebih dari 5 orang termasuk Satpamnya. Kedatangan petugas Bank ini tidak hanya sekali  namun bisa dua sampai tiga kali dalam sehari lantaran telat bayar setoran dua hari.
Bahkan, kata Bambang dirinya juga pernah ditagih saat  sholat maghrib.“Apa ada Bank yang nagih setoran saat maghrib ?” sesal Bambang .
Bambang  juga mengaku pernah ditagih disaat dirinya menanam di kebunnya. Kedatangan petugas Bank ini tentu sangat mengagetkan, bahkan Bambang merasa dirinya dikejar Densus 88.
“Caranya nagih seperti densus 88 saja, sampai dikejar dikebun  seolah saya mau kabur dan meninggalkan kewajiban,” kata Bambang.
Bahkan, menurut Bambang dirinya pernah di SMS dengan bahasa yang tidak sopan  dengan mnyinggung pribadinya.
“Apakah ini cara-cara menagih yang sopan ? bahkan urusan pribadi juga diikut-ikutkan,” kata Bambang didampingi istrinya.
Bahkan Istri Bambang juga mengaku sering menangis lantaran malu, beban dan juga merasa tidak dihargai oleh orang lain akibat cara-cara yang dilakukan oleh pegawai Bank Mega.
Saking beratnya beban yang harus ditanggungnya selama urusan di Bank Mega, Bambang dan Istrinya harus menjual mobil dan juga ruko yang dimilikinya untuk segera menutup hutangnya  agar tidak lagi berurusan dengan Bank Mega dan tidak lagi dikejar-kejar hutang. Bambang juga mengaku pernah diberi peringatan untuk dilelang barang jaminannya.
“Saya terpaksa menjual mobil dan ruko yang saya miliki, itupun dengan harga bersahabat karena ada perasaan beban dan malu akibat ditagih terus-terusan ” kata Bambang.
Dibanding lainnya, Bambang mengaku sangat terasa bedanya. Bank lainnya masih sangat bersahabat, telat sehari bahkan seminggupun tak jadi masalah bahkan tak ada yang mengejar-ngejar.
Sebagai debitur, itikad baik membayar  dan  tunduk aturan tetap dilaksanakan.Bila mengingat kejadian yang pernah dialami saat bertransaksi  dengn Bank Mega, Bambang dan istrinya mengaku cukup sekali berhubungan dengan Bank tersebut.
Sementara itu, pimpinan Bank Mega yang hendak dikonfirmasi enggan ditemui. Bahkan salah seorang karyawannya menyarankan wartawan untuk menghubungi call center.
“Silahkan mas hubungi call center,” sahutnya.(YL)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar